Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.3


Fakta (Peristiwa):

Modul 2.3 tentang Coaching dalam Supervisi Akademik dimulai pada 18 September 2024. Modul ini dibagi menjadi empat sub pembelajaran:

  1. Sub Pembelajaran 2.1: Konsep Coaching secara Umum dan dalam Konteks Pendidikan
  2. Sub Pembelajaran 2.2: Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching
  3. Sub Pembelajaran 2.3: Kompetensi Inti Coaching dan Alur Percakapan Coaching TIRTA
  4. Sub Pembelajaran 2.4: Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching

Coaching adalah proses kolaboratif yang berorientasi pada solusi, hasil, dan sistematis. Dalam coaching, seorang coach membantu coachee meningkatkan kinerja kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi. International Coach Federation mendefinisikan coaching sebagai kemitraan dengan coachee untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional melalui proses yang merangsang pemikiran dan kreativitas. Melalui tugas di Sub Pembelajaran, saya mendapatkan pengalaman berharga dalam memahami coaching. Tugas Ruang Kolaborasi, yang terdiri dari latihan dan praktik coaching, memberikan pengalaman menarik dalam memainkan peran sebagai coach dan coachee.

Perasaan:

Modul 2.3 telah memberikan pencerahan luar biasa bagi perkembangan saya dalam dunia coaching dan supervisi akademik. Saya merasa senang, lega, dan termotivasi, serta sangat yakin dan siap untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip coaching ke dalam praktik pendidikan di sekolah kami. Saya melihat coaching sebagai alat yang kuat untuk membantu kami menghadapi berbagai tantangan dalam pendidikan. Selain itu, saya merasa lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan rekan sejawat, menciptakan ruang kolaboratif untuk saling mendukung, berbagi ide, dan tumbuh bersama sebagai komunitas pembelajaran yang kuat.

Saya juga semakin termotivasi untuk mencari solusi kreatif dalam mengatasi masalah di sekolah. Modul ini mengajarkan bahwa coaching bukan hanya tentang memberikan jawaban, tetapi juga tentang memungkinkan coachee menemukan solusi mereka sendiri melalui pemikiran dan refleksi yang mendalam. Ini adalah pendekatan yang sangat memperkaya dan mendalamkan pengalaman pembelajaran kami sebagai pendidik, dan saya sangat bersemangat untuk menerapkannya dalam praktik sehari-hari.

Pembelajaran:

Saya mendapatkan banyak pembelajaran berharga dari Modul 2.3 ini. Supervisi akademik bertujuan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid dan pengembangan kompetensi pendidik di sekolah. Dalam hubungan antar guru, seorang coach dapat membantu coachee menemukan kekuatan dalam proses pembelajaran. Pendekatan komunikasi coaching melibatkan dialog emansipatif dalam suasana kasih dan persaudaraan.

Paradigma berpikir coaching melibatkan fokus pada pengembangan coachee, sikap terbuka, kesadaran diri, dan kemampuan melihat peluang masa depan. Prinsip coaching adalah “kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi.” Kompetensi inti coaching mencakup kehadiran penuh, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot. Alur percakapan coaching TIRTA mencakup perencanaan, pemecahan masalah, refleksi, dan kalibrasi. Umpan balik coaching melibatkan pertanyaan reflektif dan penggunaan data yang valid. Supervisi akademik adalah rangkaian aktivitas yang berdampak langsung pada guru dan pembelajaran mereka di kelas. Dua paradigma utama dalam supervisi akademik adalah pengembangan kompetensi berkelanjutan dan optimalisasi potensi individu.

Penerapan:

Setelah menyelesaikan Modul 2.3, saya merasa sangat termotivasi dan siap untuk mengaplikasikan kompetensi inti coaching dalam praktik sehari-hari sebagai pendidik. Pertama, saya bertekad untuk lebih hadir secara penuh dalam setiap percakapan coaching. Saya memahami pentingnya memberikan perhatian sepenuhnya kepada coachee, sehingga mereka merasa didengar dan dihargai. Selanjutnya, saya akan aktif mendengarkan, memberikan ruang bagi coachee untuk berbicara, dan benar-benar mencerna apa yang mereka sampaikan. Saya percaya bahwa mendengarkan aktif adalah kunci untuk memahami kebutuhan dan tantangan coachee.

Selain itu, saya akan mengembangkan kemampuan saya dalam mengajukan pertanyaan yang relevan dan berbobot. Saya akan memastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini dirancang untuk merangsang pemikiran coachee, membantu mereka menggali solusi, dan mendorong refleksi yang lebih dalam. Saya juga akan memanfaatkan prinsip coaching, seperti kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi, dalam setiap interaksi saya dengan coachee. Saya yakin bahwa dengan menerapkan prinsip-prinsip coaching ini, saya dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang bermakna dan berdampak positif bagi coachee.

Selanjutnya, saya akan mengimplementasikan rangkaian supervisi akademik yang mengadopsi paradigma berpikir coaching. Ini melibatkan pendekatan yang berpusat pada pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan optimalisasi potensi individu. Saya akan menggunakan supervisi akademik ini sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dan memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid. Saya juga berkomitmen untuk terus mengasah kemampuan coaching saya melalui latihan dan praktik dengan rekan sejawat dan murid. Dengan demikian, saya dapat terus berkembang sebagai pendidik yang efektif dan mendukung pertumbuhan coachee saya.

Posting Komentar untuk "Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.3"